Saturday, October 31, 2015

Pelarian

Kita bukannya bertemu karena saling menemukan
Kita hanyalah dua orang yang saling berpapasan jalan

Wednesday, October 28, 2015

Anomali rasa

Hujan pagi-pagi. Terlalu berisik. Terdengar seperti caci maki.
Aku benci.

Sabtu, 17 Mei 2014

how does it feel to fall in love again?

It feels like fell once, but died twice (SUB-INA, Oct 27, 2015)

Friday, May 30, 2014

Jalan Pulang

Malam mendekap pasrah
Dosa-dosa menyapa gundah
Hamba bersujud rendah

Diri kami layaknya prajurit kalah
Jiwa kami tak ubahnya bongkahan sampah

Kami mulai kehilangan arah
Kami buta. Tak tahu arah.
Kami berjudi. Menerka arah.

Biar pulang. Biar kami mati sudah.

Friday, May 23, 2014

Menjelang PEMILU

Tuhan,
Negeri ini menangis
Pemimpin kami tak ubahnya pengemis
Mencari simpati, meminta, mengais-ngais

Tuhan,
Pertiwi kini serupa gading gajah
ditinggal mati, kesejahteraan ikut punah
Hanya tinggal janji-janji rasa sampah

Tuhan,
Rakyat kami lebih mirip ikan hendak dibakar
Setiap detik hidup menggelepar-gelepar
Disumpali ocehan dan kelakar

Sunday, May 4, 2014

Dongeng di Pojok Kelas

Dulu, aku yang patah hati duduk bersandar di pojok kelas. Padahal biasanya aku akan melihatnya bermain sepak bola di lapangan, hari ini pelajaran olahraga. Tapi waktu itu pojok kelas terasa lebih menyenangkan. Aku merasa tenggelam dalam dinding putihnya. Pernah dengar sajak bahwa dinding punya telinga? Saat itu semua terasa mungkin bagiku. telinga-telinga itu mendengar suara hatiku. Pojok kelas selalu terasa menjadi tempat yang paling benar. Untuk menggerutu. Untuk merenung. Untuk menangis.

Untuk bernyanyi. Bagimu.

kamu datang memeluk gitar. Bersama kawan-kawan lain membuat lingkaran kecil bersamaku. Di pojok kelas. Kita menyanyi lagu apa saja saat itu. entah yang sedang tren, lagu jadul, lagu kesukaan , bahkan lagu yang dibenci. semua terdengar indah dinyanyikan bersama. 

Seorang teman bangkit berdiri. Satu lagi kembali ke tempat duduknya. Beberapa yang lain mengerjakan sisa tugas yang belum selesai. sisanya entah menghilang kemana. Meninggalkan kita berdua. 

Berempat. Aku dan sakit hatiku. Kamu dan gitar di pangkuanmu. 
"Kamu tau lagu ini?" Tanyamu menyebutkan sebuah lagu. lagu itu soundtrack film. Disney. 
Aku mengangguk. Menjawab iya. Tanganmu mulai bermain memetik senar gitar. Aku membiarkanmu menyanyi sendiri. Aku mendengarkan. Aku pendengar yang baik.

Satu lagi selesai. Kamu tersenyum melihatku. Satu lagu lagi mengalun. Aku merasa asing. Kali ini tatapanmu tidak mengarah pada permainan gitarmu. Kamu melirikku dengan sebelah mata sambil menyanyikan lirik. 

Aku jatuh cinta. 

Kita berlima sekarang. Kamu, masih dengan gitar di pangkuanmu. Aku, kini dengan bayangmu, dan lagu kenangan.


Surabaya, 4 Mei 2014


Itu dulu. Dulu sekali. Cerita yang seharusnya telah berubah jadi dongeng. Tapi dongeng kita tak pernah berakhir bahagia selama-lamanya. Jadi biar begitu saja. 

Cerita kosong di pojok kelas.

Friday, January 31, 2014

Undangan Pernikahan - a short story

           Undangan berwarna putih salju. Dengan untaian bunga-bunga berwarna ungu yang timbul, terbuat dari beludru. 
           Ada foto pre-wedding di dalamnya. Satu dengan konsep siluet di pinggir pantai dengan suasana matahari terbenam. 
           Satu lagi dengan latar suasana kota dilihat dari puncak bianglala, dan mempelai berdua di dalam keranjang yang berputar itu, berbagi manisnya permen kapas. 
           Dan satu foto lagi diambil di emperan stasiun. Dengan begitu banyak orang berlalu lalang di sekitar, sibuk dengan urusan masing masing. Mempelai berdua duduk di tangga depan pintu masuk. Saling berhadapan dengan tawa lepas di wajah. Begitu sederhana. Begitu apa adanya. Segala kesemrawutan di sekitar mereka seolah kelam dan memudar. Hanya mereka berdua yang tampak hidup dan berwarna. Tapi rumit dan abstrak. Seolah mengartikan makna cinta.


           Tanpa sadar, tanganku mengusap foto-foto pre-wedding dalam undangan. Aku mengenal semua konsep itu. 

Dalam ceritaku, itu bukan hanya konsep, itu kenangan bersamanya. 

           Kenangan yang dengan susah payah kukubur. Sekarang muncul begitu saja ke permukaan hanya karena sebuah undangan yang datang tiba-tiba. Dan tentu saja, aku mengenal wajah mempelai pria, dalam ceritaku, dia adalah dia. Meski entah mengapa aku justru tak ingat namanya. Mungkin masih tertinggal, terkubur. Setidaknya tidak akan sesulit dulu untuk kembali mengubur kenangan ini. 

           Mungkin begitu.


Undangan Pernikahan-
Check this out soon