Undangan
berwarna putih salju. Dengan untaian bunga-bunga berwarna ungu yang timbul,
terbuat dari beludru.
Ada foto pre-wedding
di dalamnya. Satu dengan konsep siluet di pinggir pantai dengan suasana
matahari terbenam.
Satu lagi dengan latar suasana kota dilihat dari puncak
bianglala, dan mempelai berdua di dalam keranjang yang berputar itu, berbagi
manisnya permen kapas.
Dan satu foto lagi diambil di emperan stasiun. Dengan
begitu banyak orang berlalu lalang di sekitar, sibuk dengan urusan masing
masing. Mempelai berdua duduk di tangga depan pintu masuk. Saling berhadapan
dengan tawa lepas di wajah. Begitu sederhana. Begitu apa adanya. Segala
kesemrawutan di sekitar mereka seolah kelam dan memudar. Hanya mereka berdua
yang tampak hidup dan berwarna. Tapi rumit dan abstrak. Seolah mengartikan
makna cinta.
Tanpa sadar, tanganku mengusap foto-foto pre-wedding dalam undangan. Aku mengenal
semua konsep itu.
Dalam ceritaku, itu bukan hanya konsep, itu kenangan
bersamanya.
Kenangan yang dengan susah payah kukubur. Sekarang muncul begitu
saja ke permukaan hanya karena sebuah undangan yang datang tiba-tiba. Dan tentu
saja, aku mengenal wajah mempelai pria, dalam ceritaku, dia adalah dia. Meski entah mengapa aku justru tak
ingat namanya. Mungkin masih tertinggal, terkubur. Setidaknya tidak akan
sesulit dulu untuk kembali mengubur kenangan ini.
Mungkin begitu.
Undangan Pernikahan-
Check this out soon
