Friday, January 31, 2014

Undangan Pernikahan - a short story

           Undangan berwarna putih salju. Dengan untaian bunga-bunga berwarna ungu yang timbul, terbuat dari beludru. 
           Ada foto pre-wedding di dalamnya. Satu dengan konsep siluet di pinggir pantai dengan suasana matahari terbenam. 
           Satu lagi dengan latar suasana kota dilihat dari puncak bianglala, dan mempelai berdua di dalam keranjang yang berputar itu, berbagi manisnya permen kapas. 
           Dan satu foto lagi diambil di emperan stasiun. Dengan begitu banyak orang berlalu lalang di sekitar, sibuk dengan urusan masing masing. Mempelai berdua duduk di tangga depan pintu masuk. Saling berhadapan dengan tawa lepas di wajah. Begitu sederhana. Begitu apa adanya. Segala kesemrawutan di sekitar mereka seolah kelam dan memudar. Hanya mereka berdua yang tampak hidup dan berwarna. Tapi rumit dan abstrak. Seolah mengartikan makna cinta.


           Tanpa sadar, tanganku mengusap foto-foto pre-wedding dalam undangan. Aku mengenal semua konsep itu. 

Dalam ceritaku, itu bukan hanya konsep, itu kenangan bersamanya. 

           Kenangan yang dengan susah payah kukubur. Sekarang muncul begitu saja ke permukaan hanya karena sebuah undangan yang datang tiba-tiba. Dan tentu saja, aku mengenal wajah mempelai pria, dalam ceritaku, dia adalah dia. Meski entah mengapa aku justru tak ingat namanya. Mungkin masih tertinggal, terkubur. Setidaknya tidak akan sesulit dulu untuk kembali mengubur kenangan ini. 

           Mungkin begitu.


Undangan Pernikahan-
Check this out soon


No comments:

Post a Comment