Aku
pergi setelah menutup pintu. Kuncinya rusak. Belum sempat kuperbaiki. Biar. Tak
ada barang berharga yang bisa dicuri.
Pencuri yang masuk minggu lalu pun mungkin juga
berpikir begitu. Kunci pintu depan sudah rusak waktu aku pulang kerja hari itu.
Mungkin dibuka paksa. Ada bekas congkelan yang tertinggal. Seluruh rumah sudah
berantakan tak karuan. Tapi tak ada barang hilang satupun.
Memang tak ada yang bisa dicuri.
Lampu
lalu lintas berubah hijau. Aku berhenti, menunggu. Seorang Ibu menyeberang
seenaknya. Hampir tertabrak sepeda motor yang datang tiba-tiba dari tikungan.
Lampu lalu lintas menyala merah. Mobil-mobil
berhenti. Motor-motor berzig-zag maju sampai zebra cross. Pengamen jalanan terjun ke jalan, mendekati kaca
mobil. Menyanyi-nyanyi cempreng. Mungkin
itu dangdut oplosan. Suara knalpot menderu keras memecah jalanan. Terlalu
keras. Menyusup diantara kendaraan lain. Lampu masih merah, tapi pengemudi
sepeda motor itu sepertinya tak berusaha menurunkan kecepatan. Suara klakson
bersahutan. Si pengemudi kesetanan tak perduli. Dilanggarnya lampu merah.
Setelah tak sadar noda merah darah terciprat di seragamnya yang berwarna putih
abu-abu kumal itu. Seorang pengamen jalanan tergeletak kejang-kejang. Dari kepalanya
darah muncrat-muncrat seperti air mancur di alon-alon kota.
Kejujuran Seharga Pigura-
Check this out soon
No comments:
Post a Comment