Friday, January 31, 2014

Pigura - a short story

            Aku pergi setelah menutup pintu. Kuncinya rusak. Belum sempat kuperbaiki. Biar. Tak ada barang berharga yang bisa dicuri.
Pencuri yang masuk minggu lalu pun mungkin juga berpikir begitu. Kunci pintu depan sudah rusak waktu aku pulang kerja hari itu. Mungkin dibuka paksa. Ada bekas congkelan yang tertinggal. Seluruh rumah sudah berantakan tak karuan. Tapi tak ada barang hilang satupun.

Memang tak ada yang bisa dicuri.

            Lampu lalu lintas berubah hijau. Aku berhenti, menunggu. Seorang Ibu menyeberang seenaknya. Hampir tertabrak sepeda motor yang datang tiba-tiba dari tikungan. 

            Lampu lalu lintas menyala merah. Mobil-mobil berhenti. Motor-motor berzig-zag maju sampai zebra cross. Pengamen jalanan terjun ke jalan, mendekati kaca mobil. Menyanyi-nyanyi cempreng. Mungkin itu dangdut oplosan. Suara knalpot menderu keras memecah jalanan. Terlalu keras. Menyusup diantara kendaraan lain. Lampu masih merah, tapi pengemudi sepeda motor itu sepertinya tak berusaha menurunkan kecepatan. Suara klakson bersahutan. Si pengemudi kesetanan tak perduli. Dilanggarnya lampu merah. Setelah tak sadar noda merah darah terciprat di seragamnya yang berwarna putih abu-abu kumal itu. Seorang pengamen jalanan tergeletak kejang-kejang. Dari kepalanya darah muncrat-muncrat seperti air mancur di alon-alon kota.


Kejujuran Seharga Pigura-
Check this out soon 



No comments:

Post a Comment