Kereta datang. Terlambat.
Seperti aku yang terlambat datang bulan. Belum besar
benar. Baru dua bulan usianya. Dua bulan lebih juga dari usia pernikahan.
“Jadi maukah kau membagikan sedikit cintamu untuk
kujadikan penutup doaku?”
Aku terisak. Mengangguk. Dia menyematkan cincin di
jari manis.
Cincin dari ilalang yang kami rangkai berdua.
Darahku berdesir
saat mas Ridwan mencium bibirku. Melumatnya.
Ada yang menyentuh bibirku lembut. Melumatnya pelan.
Rasa anyir darah terasa di lidah.
Aku jatuh cinta lagi.
Kereta-
Check this out soon
No comments:
Post a Comment